Tidak Cukup dengan Transformasi Digital

Oleh : Admin BoksMan

2021-01-14 07:28:39

By: Meyyer Christopher Lumembang, Co-Founder BoksMan Asia

Fenomena Transformasi Digital yang saat ini terjadi, kini memasuki saturation phase dimana digitalisasi semata tidaklah cukup. Hyperconnected Society telah mengakibatkan keputusan untuk menggunakan sebuah produk dipengaruhi oleh pembenaran sekolompok orang, sehingga Customer Demand berkembang secara cepat dan radikal. Tuntutan untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional atau bahkan tanpa capital expenses, memaksa setiap pelaku bisnis memikirkan kembali pendekatan model bisnis yang lebih tepat terutama saat pandemic covid-19. Hal-hal tersebut telah menciptakan chaotic yang berkepanjangan sehingga digitalisasi semata tidak lagi menjadi solusi terbaik.

Transformasi model bisnis pada dasarnya berfokus pada value proposition yang secara akurat menyelesaikan pain points pengguna produk, perubahan cost structure yang jauh lebih efisien dengan mengurangi atau bahkan memonetisasi waste process, mekanisme pemasukan yang jauh menguntungkan, dan diferensiasi yang mengakibatkan entry to barrier yang besar. Transformasi model bisnis identik dengan menciptakan ekosistem bisnis dimana setiap entitas yang berperan didalamnya memperoleh manfaat. Maka dari itu, transformasi digital harus dipadukan dengan transformasi model bisnis sehingga menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang eksponensial.

Geliat digitaliasi pada sektor logistik terutama pada angkutan kontainer pelabuhan atau angkutan petikemas semakin gencar. Namun, digitalisasi sektor logistik tidaklah cukup untuk mengatasi kompleksitas dan ketidakefisienan proses angkutan kontainer pelabuhan. Tata letak kawasan industri, pelabuhan, dan depot kontainer di Greater Jakarta telah mengakibatkan pergerakan truk trailer sangat tidak efisien dan tidak efektif. Selain itu, proses impor dan ekspor serta inbound dan outbound domestic di Port of Jakarta yang terfragmentasi telah menciptakan 24.000 perjalanan truk trailer tanpa muatan di Greater Jakarta. BoksMan Asia kemudian menyadari bahwa digitalisasi proses tidaklah cukup, sehingga dibutuhkan transformasi bisnis model. BoksMan Asia memobilisasi dan mengorkestrasi forwarders, trucking companies, shipping lines, dan governments untuk berkolaborasi menciptakan sebuah ekosistem yang saling menguntungkan serta ekosistem yang berkelanjutan. Kolaborasi tersebut kemudian mempermudah implementasi transformasi bisnis model menggunakan pendekatan crowd sources dan demand-supply visibility, agar setiap truk yang membawa muatan import maupun inbound domestic dapat digunakan langsung untuk mengankut muatan ekspor dan outbound domestic. Untuk mewujudkan hal tersebut, BoksMan Asia berkolaborasi dengan pengelola depot kontainer membangun enabler berupa temporary place untuk perpindahan petikemas di area industri. Keberadaan enabler tersebut menciptakan pergerakan truk yang sangat efisien hingga meningkatkan utilisasi truk trailer sebesar 2 kali lipat.

Tidak hanya memberikan manfaat kepada setiap entitas yang berkolaborasi, transformasi bisnis model yang diusung oleh BoksMan Asia juga memberikan manfaat terhadap lingkungan. Salah satunya dapat mengurangi salah satu faktor kemacetan di Greater Jakarta yang diakibatkan oleh pergerakan truk trailer yang membawa muatan kosong serta secara tidak langsung menurunkan jumlah karbon atau gas emisi yang dihasilkan oleh truk trailer.