Mengelola Logistik Ramping dalam Bisnis (Lean Logistics)

Oleh : Admin BoksMan

2020-12-11 02:19:35

Pada dasarnya, tidak ada satu pun kegiatan bisnis yang tidak melibatkan kegiatan logistik. Di seluruh dunia, 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari, logistik terus bergerak. Logistik berperan sebagai “connector to the dot,” yaitu menghubungkan titik-titik yang membentang di antara suatu perusahaan penyedia produk atau jasa kepada pelanggannya. Setidaknya terdapat tiga fungsi logistik dalam proses operasional bisnis, di antaranya fungsi distribusi pasar, fungsi manufaktur, dan fungsi pengadaan. Umumnya, kegiatan logistik membantu penyediaan produk atau jasa yang dibutuhkan pada waktu yang tepat sesuai dengan keperluan pelanggan. Maka dari itu, selain untuk mencapai kepuasan pelanggan dan visi misi internal dalam perusahaan, arus informasi yang terjadi di antara tiga fungsi logistik harus dikoordinasikan secara efektif dan efisien. Sinkronisasi logistik pun harus bertumpukan pada proses kinerja operasional bisnis. Sangat sulit untuk dibayangkan, bagaimana suatu kegiatan bisnis manufaktur, penyimpanan, hingga distribusi dapat mencapai target masing-masing tanpa kehadiran logistik. Keberhasilan kegiatan logistik diukur dari aspek ketersediaan suatu produk atau jasa, efektivitas dan efisiensi dari kinerja operasional, hingga keandalan terhadap layanan kepada pelanggan.

Kepuasan pelanggan menjadi tantangan sekaligus tolok ukur bagi bisnis. Selain itu, untuk memastikan berjalannya fungsi logistik, pembentukan jaringan, struktur informasi, dan perencanaan transportasi harus dirumuskan secara optimal. Selain itu, adanya beberapa kegiatan seperti penyimpanan material, material handling, dan packaging harus dimanfaatkan secara optimal demi terjaganya kualitas produk.  Setiap perusahaan yang terlibat dalam proses logistik tertantang untuk mengkoordinasikan setiap proses bisnis kepada sebuah sistem operasional yang terintegrasi dan berfokuskan kepada pelayanan dan kepuasan pelanggan.

Proses logistik yang ramping mengacu kepada kemampuan suatu perusahaan untuk dapat merancang, mengelola, dan mengontrol pergerakan barang dimulai dari barang material dasar atau mentah (raw material), hingga barang yang sudah jadi (finished product) dengan total biaya yang cenderung rendah. Maka itu, untuk mencapai total pengeluaran yang rendah, berarti asset keuangan dan sumber daya manusia harus dijaga semaksimal mungkin. Pengeluaran operasional (biaya langsung) juga perlu ditekan serendah mungkin. Hal ini disebabkan karena bagi kebanyakan suatu perusahaan, biaya logistik adalah pengeluaran pertama sekaligus termahal dibandingkan dengan biaya lainnya. Selain itu, sistem handal yang mampu mengelola barang dari mulai produk mentahan hingga produk yang sudah jadi dan siap sangat diperlukan. Sistem yang membantu proses pengelolaan dan pengontrolan, track-and-trace, dan pencatatan adalah sistem yang dapat diperlukan di setiap industri. Penerapan sistem yang ramping untuk setiap kegiatan logistik dapat sangat membantu monitoring dan controlling pergerakan barang.

Kini, kombinasi dan integrasi antara sumber daya manusia (beserta keterampilannya), sistem yang handal, dan total biaya operasional untuk mencapai tujuan logistik yang ramping merupakan tantangan yang sulit bagi setiap perusahaan. Tetapi, apabila setiap perusahaan mampu mengintegrasikan proses operasional dan bisnis secara maksimal, kompetensi yang dimiliki perusahaan tersebut sulit untuk ditiru oleh kompetitor.