#BoksManAsia #BoksTheWorld #UnBoksYourThinking

Angkutan Container

Prediksi Tren Tarif Logistik Angkutan Kapal atau Freight Rate Tahun 2022

BoksMan Asia

by BoksMan Asia 31 March 2022

107
Prediksi Tren Tarif Logistik Angkutan Kapal atau Freight Rate Tahun 2022

Foto: canva.com

 

Jakarta, Boksman - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus melakukan berbagai upaya dalam mengatasi dampak kenaikan tarif logistik atau freight rate yang terjadi secara global.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut sekaligus Plt Direktur Jenderal Hubungan Laut Kemenhub yakni Mugen S. Sartoto mengaku bahwa tarif logistik yang berlaku saat ini masih relatif lebih tinggi dibanding sebelum masa pandemi Covid-19.

“Meski begitu, sudah mulai terjadi penurunan menurut informasi dari para agen Main Line Operator (MLO),” ujarnya, Rabu (16/3).

Terkait kenaikan harga tarif logistik, pemerintah sendiri sebenarnya tidak bisa mengintervensinya. 

Hal ini mengingat freight rate dalam industri pelayaran internasional, termasuk pengangkutan kontainer ditentukan murni dari business to business (B2B) berdasarkan mekanisme pasar.

 

Baca Juga: Perhitungan Muatan Truk dengan Rit yang Wajib Diketahui, Simak Di Sini!

 

Meski begitu, pemerintah terus berupaya membantu para pelaku usaha pengguna jasa angkutan kapal agar bisa mendapat tarif logistik yang lebih kompetitif. 

Saat ini Kemenhub sudah berulang kali melakukan rapat dengan para stakeholder pengguna kontainer dalam memetakan kebutuhan suplai ruang muat kontainer. Selain itu, Kemenhub juga melobi para pihak MLO untuk mengalokasikan sekitar 30% kontainer bekas impor agar bisa dipakai para eksportir Indonesia. 

"Terkait bagaimana kemampuan pengguna kontainer membayar sewanya, willingness to pay dari para pengguna yang menjawabnya,” tukas Mugen S. Sartoto.

Berkat lobi pemerintah tersebut, beberapa operator pelayaran mulai membuka rute baru bagi pengiriman barang untuk tujuan luar negeri. 

 

Baca Juga: Masa Depan Pengiriman Container dengan Global Smart Containers, Sudah Siapkah?

 

Misalnya, Meratus Line yang membuka trayek dari Semarang, Surabaya dan Jakarta menuju Qingdao dan Shanghai, China untuk mendukung aktivitas ekspor Indonesia. Ada pula Kaiso Line yang akhirnya membuka trayek dari Jakarta menuju Timur Tengah dan Singapura.

“Kami terus bantu upaya melobi, memberi kemudahan, mempercepat perizinan jika diperlukan,” pungkas dia

Tarif logistik angkutan kapal atau freight rate memang diperkirakan butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar kembali ke level sebelum pandemi Covid-19.

Kepala Samudera Indonesia Research Initiative (SIRI) Denny Irawan menjelaskan, kenaikan freight rate kontainer pada level internasional disebabkan akibat kelangkaan kontainer pada rute pelayaran Asia seiring dengan penumpukan kontainer di pelabuhan-pelabuhan Amerika.

Penyebab lainnya kenaikan tarif logistik kontainer domestik adalah kelangkaan ruang kapal lantaran banyaknya kapal kargo domestik yang dialihkan ke rute-rute internasional karena relatif lebih menguntungkan.

Akibatnya, ketersediaan kontainer jadi tampak semakin melimpah di rute-rute Asia, sehingga akhirnya mulai mendorong turunnya freight rate rute internasional sejak awal tahun 2022. 

“Sedangkan, kelangkaan space kapal masih terjadi di rute domestik,” imbuh Denny, Rabu (16/3).

Denny sendiri memperkirakan tarif logistik kontainer di rute internasional akan mengalami tren penurunan pada tahun ini. Namun, penurunan ini hanya akan sampai pada level freight rate kontainer di awal tahun 2021 lalu. 

"Penurunan sampai ke level normal atau sebelum pandemi mungkin baru akan terjadi di tahun 2023—2024,” katanya.

Sebaliknya, freight rate untuk rute domestik kemungkinan masih berada pada tren naik sepanjang tahun ini. Penyesuaian tarif logistik rute domestik baru akan terjadi saat tarif untuk rute internasional relatif tidak lebih menguntungkan ketimbang rute domestik.

Sementara, terkait adanya dampak kargo logistik di tengah perang Rusia-Ukraina, Denny menilai dampaknya akan paling terasa bagi industri pelayaran sebab kenaikan harga bahan bakar kapal akibat lonjakan harga minyak dunia. 

“Kenaikan harga bahan bakar tersebut pada akhirnya akan terefleksikan di tingkat freight rate kontainer, mengingat 20%-30% biaya operasional pengapalan berasal dari biaya bahan bakar,” ungkapnya.

Denny pun juga menilai bahwa para pelaku usaha pengguna jasa angkutan kontainer dan kapal akan terus berupaya menyesuaikan kontrak pengapalan guna mengantisipasi penurunan freight rate di masa mendatang.

 

Sumber:


tags

kontainer logistik Tarif logistik start-up logistik

newest

Angkutan Container